Sabtu, 19 Februari 2011

My Dad (part 2)

"lanjutan tulisan seorang anak untuk ayahnya.."

Senin,15 Desember 2003 '14.30'

Kenapa perasaanku tidak enak? kenapa mataku terasa sepet sekali seperti orang habis menangis seharian. Apa yang akan terjadi? Jam 14.30 mataku makin sepet dan ingin cepat2 pulang kerumah. Hari ini aku mendapatkan hasil nilai ulanganku, dan ternyata aku mendapat peringkat 1. Aku senang sekali. Aku ingin sekali menelpon ayah dan mama untuk memberitahu berita mengembirakan ini. Pasti ayah senang sekali.Rasanya aku ingin cepat2 bertemu ayah dan mama.Ayah dan mama pasti senang dan bangga sekali mendengar kabar aku mendapat peringkat 1. Dikelas aku teringat ayah selalu.Semoga ayah cepat sembuh. Bel pulang sekolah berbunyi, aku pulang dengan tergesa-gesa. Tidak biasanya aku langsung pulang, biasanya aku main dulu. Tapi perasaan ini selalu ingin cepat sampai dirumah...
Tak terasa aku sudah sampai didepan gang dan turun dari mobil, aku menuju rumah sampai di depan gang aku melihat bendera kuning terpasang. Dari kejauhan aku melihat orang sedang berkumpul didepan rumahku.Aku sama sekali tak berfikir apa2.

Tepat didepan rumahku semua badanku terasa lemas dan tak ada tenaga. Aku masuk dan melihat orang2 menangis begitu juga kakakku.Akupun langsung bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun langsung jatuh tergeletak dan menangis.Ini semua tidak mungkin terjadi...Ya Allah apa yang sedang berlaku pada diriku? Tidak mungkin ayah tega meninggalkan aku sendiri. Ayah sudah tak ada lagi di dunia ini.Ayah telah meninggalkan aku untuk selamanya. Innalillahi wa innailaihi rojiun...Ayah bener2 sudah tidak ada lagi.Aku sudah tidak punya ayah lagi...

Saat itu juga yang ada dipikiranku hanya pulang ke kampung dimana ayahku berada yaitu Jawa, pulang ke Jawa dan pulang ke Jawa. Aku tidak butuh nilai bagus dan peringkat 1. Aku mau ayah ku kembali lagi. Ya Allah kenapa ini terjadi begitu cepat? Kenapa aku harus pulang malam Senin? Berita ini membuat harapan dan keinginanku sirna begitu saja. Aku ingin cepat sampai di kampungku Jawa. Aku ingin melihat wajah ayah untuk terakhir kalinya. Ayah maafin adhe yah. Adhe belum sempet memenuhi harapan2 ayah. Maafin kalo selama ini adhe punya salah. Ayah tungguin adhe dateng yah.

Ayah udah ga ada dan aku harus bisa menjalani hidup tanpa ayah, sekolah tanpa ayah, belajar tanpa ayah, makan tanpa ayah, tidur tanpa ayah dan apa2 tanpa ayah. Akankah aku menemukan ocha yang periang, yang tegar, yang cuek, yang selalu tersenyum. Mungkinkah aku bisa hidup tanpa ayah?

Aku ikhlas kehilangan ayah...

Love,
Ocha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar